Jejak Sejarah Perjuangan di Makassar (6-Habis)

0
72 views

Oleh : Andi Ar Evrai

PENASATU.COM, BALIKPAPAN-Dari serangkaian jejak sejarah yang saya lakukan selama di Makassar belum lama ini, maka petilasan Pangeran Diponegoro ini merupakan perjalanan pamungkas selama saya berada di Makassar.

Kurang lengkap rasanya kalau tidak berkunjung kesini karena Pangeran Diponegoro ini merupakan seorang pejuang besar yang hampir saja bisa membuat Belanda angkat kaki dari Nusantara karena mengalami kebangkrutan untuk membiayai perang.

Diponegoro ini menghabiskan masa hidupnya untuk menuntut ilmu di berbagai pesantren, salah satu pesantren tempat dia pernah menyantri yaitu pesantren Tegalsari, Ponorogo pimpinan kiyai Besari.Lokasi pesantren ini hanya 2 kilo jaraknya dari pesantren Gontor.

Kebetulan beberapa orang guru saya di pesantren dulu juga pernah menuntut ilmu di pesantren Tegalsari tersebut, jadi bisa dibilang saya ini Masih memiliki hubungan ideologis dengan Pangeran Diponegoro karena berasal dari pesantren yang sama.

Dalam perang Diponegoro, para santri dari Tegalsari dan sekitar Madiun banyak yang turun membantu perjuangan Diponegoro, ribuan laskar santri ini bahu membahu berperang bersama Pangeran Diponegoro.

Karena perang Diponegoro ini sudah banyak ditulis di berbagai buku karangan, maka untuk saat ini saya ingin menulis sedikit tentang sang Pangeran saat berada di Makassar.

Melalui tipu muslihatnya akhirnya Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro dan ratusan pengikutnya, untuk kemudian dibuang ke Manado tetapi karena selama di Manado keberadaan sang pangeran dianggap membahayakan, akhirnya Belanda pun membuangnya ke Makassar.

Disinilah sang Pangeran menghabiskan sisa hidupnya, dikurung di dalam benteng Rotterdam tidak boleh berhubungan dengan masyarakat luas

Selama dalam pengasingan ini dia hanya ditemani oleh istri dan 4 orang anaknya beserta para pengikut setianya.

Hampir 25 tahun sang pangeran menjalani hidup di dalam benteng, sebab saat meletus perang Dipnegoro umurnya baru 40 tahun sedangkan saat ditangkap oleh Belanda baru berumur 45 tahun
Pada usia 70 tahun Pangeran Diponegoro meninggal dunia.

Belanda pun memberikan lokasi pemakaman tidak jauh dari benteng yaitu sebuah kaplingan yang luasnya 400 meter persegi, yang di lokasi ini juga dimakamkan istri,kerabat dan para pengikutnya.

Lokasi makam ini, sekarang berada tidak jauh dari Mall Makassar dan lapangan Karebosi jadi tepatnya berada di pusat kota Makassar.

Kalau melihat kondisi benteng Rotterdam tempat penahanan Pangeran Diponegoro, sepertinya Belanda memang berhasil mematikan semangat juang sang Pangeran.

Sebab praktis selama dalam tahanan, sang Pangeran tidak bisa berbuat apa-apa termasuk hanya sekedar untuk mengajarkan agama Islam dan berhubungan dengan masyarakat banyak. Hal ini sangat menyiksa Pangeran Diponegoro karena dirinya berada dalam kesunyian.

Kegiatan yang bisa dikerjakannya selama dalam benteng yaitu menulis buku Babad Diponegoro, dimana buku ini telah menjadi referensi untuk penulisan sejarah perang Diponegoro.

Sang Pangeran yang perkasa dan ahli agama itu akhirnya menghabiskan waktunya di bangunan benteng yang terisolasasi dari kehidupan masyarakat umum.Sebuah kondisi kehidupan yang tentu sangat membosankan dan menyiksa perasaan.

Sampai akhir hayatnya, sang pangeran yang merupakan keturunan Raja Jawa ini masih berstatus sebagai tahanan pemerintahan Belanda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here