Industri Migas Canangkan Target Ambisius

0
34

Lapangan Kerisi (foto, dok ps)

leh : Herry Trunajaya BS

PENASATU.COM, BALIKPAPAN – AKAN seperti apakah dunia ini jika Tuhan Yang Maha Esa tak menciptakan minyak dan gas di dalam perut bumi.

Agaknya, pertanyaan ini hanya patut kita renungkan. Kita yang hidup di bumi pertiwi bernama Indonesia patut bersyukur dikaruniai alam yang tidak saja indah mempesona, namun juga berlimpah dengan sumber daya alam (SDA), seperti migas yang dihampir semua perut bumi Indonesia.

Semua itu memang tak bisa dipungkiri, Indonesia memang kaya SDA. Tapi sudahkah bangsa ini memanfaatkan dan menikmati semua limpahan kekayaan tersebut? Ini pertanyaan yang cukup nyinyir. Indonesia yang kaya dengan migas, memang masih tertatih-tatih dalam pengelolaannya. Tapi hebatnya, Indonesia berani mencanangkan target lifting minyak 1 juta barel per hari pada 2030 ke depan.
Pemerintah dengan “pedenya” (percaya diri) optimis akan mampu mencapai target yang terbilang ambisius tersebut. Optimisme dilontarkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, karena saat ini di perut bumi Indonesia masih terdapat 68 dari 128 cekungan berpotensi mengandung migas yang belum dieksplorasi.

“Sudah dalam perencanaan, ke 68 cekungan itu akan segera digarap,” tegas Arifin Tasrif.

Dengan begitu, dalam waktu beberapa tahun mendatang Indonesia akan memiliki data migas yang akurat, dan dapat menarik minat investor menanamkan investasinya.

“Sebetulnya kita sudah punya program di mana pada tahun 2030, kita harus bisa menghasilkan produksi minyak 1 juta barel per hari,” tegas sang Menteri ESDM dengan nada optimis.


Lembaga yang dipimpin Arifin Tasrif melalui Satuan Kerja Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) tetap akan berupaya mencapai target 1 juta barel minyak per hari pada 10 tahun ke depan. Tentu saja upaya pencapaian tersebut dengan menerapkan beberapa strategi, yakni mengedepankan strategi eksplorasi yang masif dan intensif. Mendorong dan mengkampanyekan penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) di lapangan-lapangan tua (mature fields) dan mengakselerasi monetisasi proyek-proyek utama, sehingga mempercepat potensi sumberdaya menjadi lifting (produksi siap jual).

Awam pun paham dan tahu kalau sesungguhnya cadangan minyak di Indonesia terus menerus berkurang setiap tahunnya. Jumlah minyak yang diproses menjadi minyak, jadi lebih besar dibanding jumlah cadangan baru yang ditemukan yang jauh lebih sedikit. Untuk mengatasi ketidak seimbangan tersebut, berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah untuk menumbuhkan lifting minyak.

Selain kegiatan eksplorasi, upaya lain adalah melakukan EOR, yang merupakan suatu cara atau metode yang dipakai untuk meningkatkan cadangan minyak pada suatu sumur dengan mengangkat volume minyak yang sebelumnya tidak bisa diproduksi, seperti minyak-minyak yang kental, berat, poor permeability dan irregular faultlines agar bisa diangkat ke permukaan.

Dengan kondisi tersebut, apakah target ambisius 1 juta barel minyak per hari akan mampu digapai dalam 10 tahun mendatang. Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto tetap dengan keoptimisannya, target tersebut memang mencengangkan namun pihaknya akan terus berupaya dengan segala kemampuan, dan strategi pertama adalah mempertahankan produksi-produksi yang sudah ada.

Strategi kedua yang akan diterapkan SKK Migas adalah upaya percepatan sumber daya menjadi produksi dan pemberian insentif kepada Kontraktor Kontraktor Kerja Sama (KKKS) agar mencapai keekonomian yang wajar, dan ketiga percepatan penerapan chemical EOR. “Strategi pamungkas kami atau strategi keempat, masih terdapat 12 area yang potensial yang terus kami tawarkan kepada investor untuk bisa digarap,” kata Dwi dalam sebuah diskusi pada awal Juli 2020 lalu.

Dwi menyebutkan, Kementerian ESDM telah menetapkan kebijakan pembukaan data dengan harapan bisa memudahkan para calon investor. “Ada tiga di Sumatera, juga tiga di Kalimantan, satu Jawa, satu Sulawesi, empat di Indonesia bagian timur, termasuk Papua ada 10 dan plus dua fokus di air dalam,” tuturnya.


Lembaga yang dikepalai Dwi juga berani memberikan jaminan bahwa investasi hulu migas ke depannya diprediksi terus meningkat mengingat hingga 2027 terdapat 42 proyek utama dengan total investasi USD43,3 miliar dan produksi pendapatan kotor (gross revenue) sebesar USD20 miliar.

“Total produksi dari 42 proyek tersebut 1,1 juta bopd yang mencakup produksi minyak sebesar 92.100 bopd dan gas 6,1 miliar kaki kubik per hari. Empat diantaranya merupakan proyek strategis nasional atau PSN hulu migas yang menjadi prioritas untuk meningkatkan produksi migas demi memenuhi konsumsi migas domestik yang semakin meningkat,” jelas Dwi.

Suara-suara sumbang memang terus berseliweran akan target ambisius yang dicanangkan pemerintah melalui SKK Migas. Namun bagi semua pemangku kepentingan, sikap optimis di sektor migas tetap harus terus dikobarkan.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here